Berinovasi dan Sinergi Siaga Bencana

Oleh : Brigjen Kunto Arief Wibowo

(Danrem 032 Wirabraja)

Data dari BNPB tahun 2018 menunjukkan bahwa Sumatera Barat terkatagori daerah yang rawan bencana, terutama sekali bencana alam maupun non alam. Sebanyak 91 peristiwa terjadi sepanjang 2018, dengan jenis bencana dominan adalah banjir (45), putting beliung (25) dan tanah longsor (14). Selain itu terdapat pula satu ancaman besar yang selalu mengintai dan dapat terjadi seketika, yaitu gempa bumi dan tsunami. Megatrust, begitu nama menakutkan itu bergema. Intinya, Sumbar adalah daerah yang terkatagori selalu berlabel lampu kuning (siaga) setiap saat.

Peristiwa tahun 2009 lalu masih menyisakan duka mendalam, saat Sumbar, terutama kawasan pesisir pantai barat, dihoyak gempa besar yang meluluhlantakkan kota dan hampir seluruh pemukiman sepanjang pantai. Petaka yang tergolong mengagetkan, terjadi seolah-olah seketika saja,  dengan akibat sangat luar biasa.

Gempa bumi dan tsunami adalah fenomena alam, tak ada yang bisa menahan dan mencegahnya. Manusia hanya pasrah, menerima musibah datang.  Yang paling mungkin bisa dilakukan adalah bersiap diri sedini mungkin, siaga, dan melakukan respon cepat untuk meminimalisir jatuhnya korban. Hanya itu yang bisa dilakukan sampai saat ini. Usaha preventif lain adalah melakukan berbagai modifikasi, rekayasa teknologi, yang tujuannya bukan untuk mencegah gempa atau tsunami, tapi mengurangi efek yang terjadi.

TNI sendiri, dalam hal ini jajaran Korem 032 Wirabraja, senantiasa selalu berada dalam garda terdepan penanggulangan bencana. Ini tentu tak lepas dari tanggungjawab prajurit yang memang ditegaskan dalam UU TNI. Selama ini, jajaran TNI biasanya bergerak cepat saat tanggap darurat dan pasca bencana. Tugas seperti ini sudah dilakukan dan terbukti pula, berkat kerjasama dengan unsur terkait lainnya, terutama BNPB dan Badan SAR, tugas itu berhasil dilaksanakan.

Berdasarkan pengalaman penanggulangan bencana selama ini, kita perlu belajar banyak dan memperbaiki berbagai titik lemah yang ada. Ini penting sebagai bekal untuk kesiapsiagaan di masa datang. Dalam literatur manajemen bencana selalu disebutkan siklus yang harus diperhatikan, yaitu pra bencana, tanggap darurat, dan pasca bencana. Tahap terpenting adalah pra bencana, dan urusan mitigasi ada pada tahapan ini.

Perlu dibedakan karakteristik bencana, khususnya yang terjadi di Sumbar, yaitu bencana karena faktor alam dan bencana non alam (efek perbuatan manusia). Bencana faktor alam, hal yang bisa dilakukan adalah melakukan berbagai upaya mitigasi, mempelajari karakteristik bencana, efek, masyarakat, dan kemudian upaya apa yang bisa dilakukan untuk antisipasinya. Sementara bencana karena faktor non alam (sering terjadi karena ulah manusia), maka perlakuan terhadap manusialah yang jadi titik sentralnya. Bencana ini bisa dicegah, dalam arti kata bisa dihindari bahkan bisa tidak terjadi jika ada upaya khusus dari manusia untuk melakukan aktifitas mencegah.

Terhadap bencana faktor alam, dari jajaran Korem 032 Wirabraja melalui kerjasama dan kebersamaan dengan unsur lain terkait sudah dirancang dan diformulasikan beberapa hal.

Pertama, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kecenderungan bencana yang terjadi. Kegiatan ini dilakukan dengan berbagai metode sosialisasi, peragaan, serta himbauan-himbauan khusus. Metode ini termasuk melakukan edukasi bencana, dimana orientasinya adalah upaya minimalisir korban. Edukasi secara menyeluruh dengan fokus pada kaitan bencana dengan prilaku keseharian masyarakat.

Kedua, menyiapkan dan melakukan berbagai inovasi teknologi yang memungkinkan untuk memperlancar pelaksanaan tanggap darurat. Rekayasa teknologi sangat diperlukan, mengingat saat bencana terjadi yang diperlukan adalah kelengkapan sarana prasarana pendukung. Medan yang ditempuh akan sulit, akses internet dan listrik akan terputus. Pada saat itu, guna efektifitas penyelamatan, maka teknologi adaptif yang diperlukan. Menyiapkan kendaraan yang bisa masuk segala medan, kesiapan kendaraan tanpa BBM dan listrik, kesiapan sarana komunikasi tanpa listrik dan sinyal, adalah hal-hal penting yang perlu diperhatikan.

Ketiga, terhadap ancaman gempa bumi, harus digencarkan berbagai sosialisasi dan infrastruktur yang adaptif dengan gempa. Meminimalisir korban adalah prioritas dan kemudian dilanjutkan dengan metode evakuasi yang efektif.

Keempat, terhadap ancaman tsunami, memperkuat sisi-sisi pantai harus dilakukan. Pagar hidup bisa jadi solusi. Penanaman tanaman pemecah air di bibir pantai dan menghindari pembangunan pemukiman di dekat pantai, harus dilakukan.

Kelima, membangkitkan potensi kearifan lokal masyarakat dalam mensikapi bencana. Masyarakat Mentawai adalah kelompok yang potensial untuk hal ini. Pola antisipasi bencana harus mengacu pada kearifan masyarakat yang sudah terbangun dan sudah sangat adaptif terhadap bencana. Ini harus dipelajari dan dijadikan bahan penting.

Keenam, melakukan upaya-upaya strategis untuk menekan potensi bencana karena faktor manusia. Kita bisa ambil contoh, banjir dan tanah longsor, adalah jenis bencana yang dominan karena faktor manusia. Fenomena alam memang ada, tetapi persentasenya sedikit. Oleh karena itu, daerah-daerah yang memang menjadi tampungan air, resapan, penahan tanah, harus dijaga dan dilindungi. Masyarakat harus dihindarkan dari tindakan melakukan eksploitasi terhadap kawasan ini. Kesadaran lingkungan tanpa mengurangi akses ekonomi masyarakat, tetap jadi prioritas.

Ketujuh, pembentukan relawan siaga bencana yang merupakan kelompok-kelompok strategis di masyarakat. Mereka bisa melakukan edukasi masyarakat, petugas tanggap darurat, dan berfungsi juga sebagai early warning system. Keterlibatan ini diarahkan pada  peningkatan partisipasi berupa relawan-relawan yang digalang untuk menjadi mitra penanggulangan bencana. Mereka disiapkan, dibentuk, dan diarahkan pada kemampuan memahami karakteristik bencana.

Untuk bisa melakukan itu, sinergitas dan komitmen yang sama dalam memandang alam semesta ini adalah kuncinya. Dari sini baru diturunkan menjadi program-program yang lebih aplikatif. Siapa yang harus bersinergi? Semuanya. Pemerintah Daerah dan jajarannya adalah yang pertama. Kebijakan dan program pembangunan berada pada kewenangan pemerintah, yang semestinya menyokong pada kesiagaan bencana. TNI-Polri juga demikian. Alat negara ini punya kemampuan taktis dan teknis. Mereka bisa diandalkan tidak hanya saat tanggap darurat tapi juga mitigasi bencana. Unsur akademisi dengan kemampuan riset dan penciptaan inovasi-inovasi baru, sangat diharapkan yang memiliki orientasi sadar bencana. Kelompok masyarakat sendiri, berada di ujung tombak. Merekalah yang akrab dengan situasi, tahu kapan bertindak, capek kaki ringan tangan.

Dalam bahasa Minang, inilah yang disebut badunsanak, bencana disikapi secara badunsanak, baik tingkat pencegahan, tanggap darurat maupun pasca bencana. Badunsanak disini dimaknai sebagai rasa saling mendukung dan menyokong terhadap usaha apapun yang potensial untuk menghadapi bencana, bukan justru apatis atau malah menyepelekannya.

Kita berada di daerah rawan bencana. Itu harus jadi kesadaran bersama. Bukan untuk takut pada galodo datang atau tsunami menghantam, tapi bersiap dan mempersiapkan diri. Alam adalah kita dan kita adalah alam, Alam Terkembang Jadi Guru, filosofis ini jadi perekatnya.

About admpenrem032